gelar baru buat para pemimpin dunia

August 19th, 2006 by chan-ahsan

kita tahu bahwa perang dari dulu sejak manusia tercipta takkan pernah musnah sama sekali sampai dunia nanti kiamat. tapi, siapa pun tahu, bahwa perang adalah tindakan yang benar2 secara manusiawi dibenci. tidak ada seorang pun di dunia ini yang menginginkan daerahnya diperangi. untuk itulah, maka dunia kita membuat suatu badan yang bertindak untuk menciptakan keamanan di sejagad ini, yakni PBB.
tapi, entah kenapa, apa yang akhir2 ini terjadi di lebanon, seolah2 PBB itu tidak ada. para pemimpin dunia tidak berani bersatu untuk bertindak seperti apa yang terbisik dari dalam hatinya. yakni, hentikan perang, adili Israel dan Amerika Serikat. begitu sulitnya mereka bersatu untuk bertindak mengamankan perang.tindakan mereka hanya mengecam dan mengecam saja. tidak ada tindakan nyata yang begitu berarti. belum lagi pemerintah lebanonnya sendiri, yang hanya bisa menangisi kematian warganya, serta banyak infrastrukturnya yang hancur. dia hanya mengharapkan bantuan dari negara lainnya. sungguh pemimipin yang bodoh, tidak menyuruh warganya bahkan dirinya sendiri untuk angkat senjata berperang menghadapi agresi dan hegemoni israel. sekarang, di saat semuanya sudah hancur, tidak ada lagi penghubung antara lebanon dan negeri tetangganya, baru disahkan resolusinya. benar2 BODOH.
dari kejadian semua itu, gw kasih gelar aja kepada para pemimpin dunia bahwa mereka adalah orang-orang yang GOBLOK, yang GAK BECUS, dan PENGECUT.

idealisme mahasiswa tingkat akhir

November 15th, 2005 by chan-ahsan

bagi temen-temen mahasiswa tingkat akhir yang mempunyai idealisme, gw cuma mau berpesan bahwa tetap pertahankan idealisme lo masing-masing, atau lo akan menyesal di kemudian hari. mewujudkan suatu idealisme itu memanglah tidak semudah yang kita bayangkan, ada saja yang membuat kita kadang menyerah oleh sebab situasi dan kondisi yang tidak mendukung.
tetapi, haruslah dipahami bahwa sebuah idealisme itu janganlah terlalu saklek dan tidak mempertimbangkan ini-itu, idealisme yang kita miliki itu sebaiknya bisa fleksibel sehingga idealisme yang kita punya itu tetap bisa terwujud tanpa memakan korban yakni diri kita sendiri. seperti aksioma yang kita sama-sama ketahui bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan maka kita akan kehilangan kebahagiaan kita yang lain.